Candi Bahal Portibi, Peninggalan Kerajaan yang Terlupakan
Candi Bahal - Candi adalah bangunan yang mengandung nilai bersejarah dan merupakan salah satu bentuk warisan bersejarah masa lampau, yang merupakan sebuah bukti bahwa nenek moyang kita dulu telah berbudaya tinggi. Semua itu dibuktikan dengan adanya bentuk-bentuk bangunan candi dirancang dengan tata arsitektur sedemikian rupa dan dengan cermat dan meninggalkan jejak-jejak filosofi dan bernilai religi.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Seperti halnya bila kita sedang berkunjung ke Daerah Sumatera tepatnya Sumatera Utara, kita dapat menjumpai sebuah kompleks candi warisan dari nenek moyang kita. Peduli, memahami, menghormati, dan melestarikan kebudayaan berarti sadar akan kekayaan budaya bangsa, Daerah bersejarah yang kita bisa jumpai disana adalah kompleks Candi Bahal.
Candi Bahal
Berlokasi di daerah Sumatera Utara tepatnya di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang berjarak sekitar 3 jam dari Padangsidempuan atau dengan kata lain jarak tempuh dari Kota Medan sekitar 400 Km dan diatas sebuah bukit kecil yang bernama Bukit barisan di sebuah dataran yang rendah di sebuah lembah yang dikelilingi oleh lahan pertanian, berdirilah Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Biaro Bahal merupakan peninggalan dari Kerajaan Portibi yang berarti dalam bahasa Batak Portibi mempunyai arti dunia atau bumi yang juga merupakan serapan dari dari bahasa sansekerta.
Candi Bahal atau Candi Bahal Portibi ini hanya sebuah merupakan sebuah bagian kecil dari bagian besar candi candi lainnya dari candi-candi padanglawas yang mempunyai arti candi-candi yang terletak atau didiikan di sebuah padang yang luas yang diantaranya adalah sebagai berikut :
- Candi Pulo
- Candi Baruman
- Candi Singkilon
- Candi Sipamutung
- Candi Aloban
- Candi Rondaman Dolok
- Candi Bara
- Candi Magaledang
- Candi Sitopayan
- Candi Nagasaribu
Candi Bahal atau dengan kata lain Candi Bahal Portibi ini berdiri di tepi sungai Batang Pane, dari berbagai teori yang berkembang, sungai Batang Pane ini dahulu menjadi jalur lalu lintas perdagangan yang termasuk sibuk, dan diperkirakan juga bahwa disekitar Candi Bahal atau Candi Bahal Portibi ini adalah hutan yang tumbuh lebat di hulu sungai yang mampu menyediakan persediaan air jernih yang bisa terbilang cukup.
Struktural Candi Bahal
Candi Bahal ini terbuat dari bata merah hanya arca-arcanya sajalah yang terbuat dari batu dan dalam kompleks tersebut ada tiga bangunan kuno yang pada masing masing kompleks Candi Bahal tersebut dikelilingi oleh pagar setinggi dan tebalnya sekitar 1 meter yang semuanya juga terbuat dari bata merah yang tersusun rapi.
Setiap Candi memiliki rata rata tingginya mencapai 2,5 meter dan di dalam kompleks tersebut terdapat 3 buah bangunan yang diantaranya adalah :
Biaro Bahal I
Bentuk atap candi bahal I berbentuk limas dilengkapi dengan untaian bunga yang melingkari tepian atap.
Biaro Bahal II
Bentuk atap candi bahal II berbentuk limas dengan bentuk persegi empat dan sekelilingnya atap bagian atasnya terdapat susunan lubang yang entah apa fungsinya.
Biaro Bahal III
Bentuk atap candi bahal III memiliki bentuk atap yang sama atau tidak jauh berbeda dengan candi bahal II hanya saja pada candi bahal III tidak memiliki lubang yang tersusun pada bagian atapnya. dan tidak memiliki hiasan makara pada bagian gerbangnya.
Pada bagian sisi timur Candi Bahal terdapat sebuah gerbang yang posisinya menjorok keluar dan pada kanan dan kirinya terdapat diapit oleh sebuah dinding yang tingginya mencapai 60 centimeter.
Setiap hari Waisak tiba, maka beberapa umat yang beragama budha biasanya berkumpul guna memanjatkan doa bersama di pelataran Candi Bahal I yang menghadap ke gerbang utama yang letaknya di tengah tengah hanya sekitar 300 meter dari candi bahal II
Artefak Candi Bahal
Sepasang kepala makara di ujung teras candi bahal I : penjelasan makara adalah seekor hewan yang terdapat dalam sebuah mitos yang memiliki bentuk atau wujud setengah ikan dan setengahnya lagi berbentuk buaya.
Mulut dari arca tersebut membuka atau menganga lebar dan dalam mulut tersebut terdapat kinari yaitu burung-burung kecil berkepala manusia yang banyak dijumpai pada candi-candi Syiwa.
Bagian belakang kepala arca tersebut terdapat pula hiasan yang berbentuk pahatan lingkaran yang tersusun berjajar yang berbeda dengan makara-makara lainnya yang sering ditemui di candi candi lainnya.
Pada dinding candi bahal I juga dapat kita temu relief yang menggambarkan penari dan raksasa dan pada setiap reliefnya bisa digambarkan bahwa relief tersebut adalah menggambarkan jejak kisah perjalanan sang budha.
Masih banyak artefak atau potongan potongan relief yang terdapat disekitan candi bahal yang sudah dikumpulkan disatu tempat yaitu didalam Museum Bahal yang lokasinya tidak jauh dari candi bahal yaitu diseberang pos penjagaan candi bahal I.
Sejarah Candi Bahal
Candi Bahal atau Candi Bahal portibi tersebut berupa kompleks candi Buddha dengan aliran Vajrayana yang di duga berdiri pada abad ke 11 dan Para ahli atau peneliti sejarah berargumen bahwa Candi Bahal atau bisa juga disebut dengan Candi Bahal Portibi masih berkaitan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi mandala Sriwijaya.
Kata Biaro itu sendiri diambil dari kata setempat yang berarti candi atau biara, bisa juga diartikan sebagai vihara yang tidak lain adalah sebuah tempat atau serambi yang dimana para pendeta berkumpul atau hanya sekedar untuk berjalan jalan.
Ada beberapa versi dari para peneliti yang telah melakukan riset candi bahal atau candi bahal portibi yaitu diantaranya :
Friedrich Franz Wilhelm Junghun
Friedrich Franz Wilhelm Junghun melakukan riset pada tahun 1846 : beliau lahir di Mansfeld, westfalen, lahir 26 Oktober 1809 dan meninggal 24 April 1864 di lembang, ia adalah seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman lalu pindah menjadi berkebangsaan belanda.
Hermann Von Rosenberg
Hermann Von Rosenberg melakukan riset pada tahun 1854 : beliau lahir di Damstadt , Jerman, lahir 7 April 1817 dan meninggal 15 november 1888 di Den Haag, Belanda, ia adalah seorang cartographer, topographical.
Stein Callenfels
Stein Callenfels melakukan riset pada tahun 1920 dan 1925.
Kerkhoff
Kerkhoff melakukan riset pada tahun 1887.
De Haan
De Haan melakukan riset pada tahun 1926.
Krom
Krom melakukan hasil risetnya pada tahun 1923.
Menulis tentang apa yang terjadi di daerah Padanglawas bahwasanya peninggalan -peninggalan atau warisan yang terdapat pada daerah tersebut bisa disebut sebagai "On Javaansch" yang memiliki arti "gaya seni pahat yang berbeda sendiri dengan pahatan yang ada di Jawa" dia memiliki argumen tersendiri bahwa pahatan ini memiliki kesamaan di India Selatan atau Asia Tenggara daratan.
F.M. Schinitger
F.M. Schinitger seorang Arkeolog asal Jerman melakukan riset pada tahun 1935.
Meneliti sejarah yang terjadi pada candi bahal atau candi bahal portibi ini berdasarkan prasasti yang ditemukan yaitu prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil yang dibuat oleh seorang Raja asal India Selatan yang bernama Raja Coladewa pada tahun 1030.
Menurutnya biaro -biaro yang ada di Padanglawas dibangun bersamaan dengan dibangunnya stupa stupa yang ada didaerah Muara Takus yang lokasinya berada di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau yang berjarak sekitar kurang lebihnya 135 kilometer dari kota Pekanbaru sekitar abad 12, yang ditambahkan pula sekitar abad 11 - 14 masehi.
Bosch
Bosch mengajukan sebuah teori tersendiri pada tahun 1930.
Yang dimana masyarakat pendukung biaro di Padanglawas adalah pemeluk agama Buddha aliran Wijrayana, dan menurut beliau candi ini dibuat dan berkaitan dengan segala urusan dengan aliran ajaran agama Budha Wajrayana (lebih dikenal dengan istilah atau nama Tantra atau Tantrayana yaitu aliran yang mengajarkan tentang mantra rahasia atau mantrayana, ajaran budha eksotrik yang banyak ada kita temukan di negara thailand) yang berbeda dengan ajaran Budha yang sekarang ini.
Itulah beberapa informasi seputar candi bahal atau candi bahal portibi yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.





